Ahad, September 06, 2009

Akidah dan H1N1

Apabila berlakunya wabak H1N1 di seluruh dunia, umat manusia menjadi panik dan bimbang dengan penularannya. Setiap hari kita dihadapkan dengan statistik jangkitan dan kematian yang semakin meningkat. Kesannya, kita amat takut dengan virus ini sehinggakan terbina di dalam minda kita bahawa yang menyebabkan kematian itu ialah virus H1N1 itu..
Ramai umat Islam terlupa bahawa virus itu hanyalah asbab kematian sedangkan hakikatnya, kematian dan kesakitan itu datangnya dari Allah s.w.t. Terdapat tanggapan bahawa virus itu amat berkuasa untuk menarik roh dari jasad sehingga menyebabkan kematian. Kita perlu menyedari bahawa kematian, kesakitan, kebahagian dan kesihatan yang kita alami kini merupakan ujian Allah s.w.t buat hamba-hambanya. Samalah dengan antiviral dan vaksin yang akan disuntik ke tubuh kita kelak agar kita selamat dari virus tersebut. Kita perlu menyedari bahawa kesembuhan yang terjadi hakikatnya bukanlah berpunca kerana antiviral atau vaksin tersebut tetapi kesembuhan itu adalah kerana kehendak dari Allah s.w.t.  ubat-ubatan itu hanyalah asbab sembuh penyakit itu sedang yang menyembuh itu ialah Allah s.w.t jua.  
Janganlah hendaknya virus ini menyebabkan akidah kita tergelincir kerana hadirnya wabak ini hanyalah asbab kematian dan kesakitan yang kita alami. Sedang hakikatnya segalanya dari Allah s.w.t. Namun kita sebagai manusia perlu berusaha untuk mengelak penyakit ini dan berdoa serta bertawakal agar Allah tidak mentakdirkan kita terkena penyakit ini. Dan jika ditakdirkan kita terkena penyakit ini, tanggungjawab kitalah untuk mencari penawarnya. Sekali lagi saya tegaskan kematian dan kehidupan segalanya ketentuan Allah s.w.t. Wassalam.

Baca selengkapnya......

Jumaat, September 04, 2009

Persiapan Kemuncak Ramadhan

Sesuatu yang unik dalam menyambut kehadiran Ramadhan ialah waktu kemuncak bagi bulan Ramdhan itu sendiri. Jika kebiasaannya sesuatu itu kemuncaknya adalah di pertengahannya, namun tidak bagi Ramadhan. Kemuncak bagi Ramdhan adalah Lailatul Qadar atau disebut malam seribu bulan..
Dalam soal ini kita perlu bertanyakan diri kita apakah persiapan kita dalam melalui malam lailatul qadar itu?Malam Lailatul Qadar ini merupakan saat yang amat besar dalam tuntutan beragama. Hal ini ditegaskan oleh Allah s.w.t dalam Firmannya :“Malam lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan,” (surah : al-Qadr, ayat ketiga). Seribu bulan bermakna 83 tahun. Bayangkan betapa besar kelebihan lailatul qadar itu apabila dibuat perbandingan dengan malam-malam yang lain.
Mengikut Imam Malik, sejarah malam lailatul qadar bermula apabila Nabi Muhammad SAW sedar yang usia umat Baginda tidak sepanjang usia umat terdahulu, hanya antara 60 tahun hingga 70 tahun, malah Rasulullah SAW sendiri wafat ketika usianya 63 tahun
“Menyedari hakikat itu, Rasulullah berdoa kepada Allah SWT memohon supaya umatnya dapat beribadat sama dengan nilai ibadat umat terdahulu lalu disebabkan kasihnya Allah SWT terhadap baginda, Allah SWT mengurniakan malam lailatul qadar,”
Jadi dalam soal ini apakah kita telah bersedia untuk menempuhi malam penuh barakah itu? Jika dalam riwayat, Rasulullah pada 10 malam terakhir akan mengurangkan urusan dunia dan akan membangunkan ahli keluarganya untuk beribadah kepada Allah s.w.t., maka bagaimana pula dengan kita? marilah kita memenuhkan malam-malam kita dengan ibadah sesuai dengan tuntutan Rasulullah s.a.w junjungan mulia. Wassalam.

Baca selengkapnya......

Keterbukaan Bahasa Melayu 2

Apabila Kesultanan Melayu Melaka jatuh ke tangan Portugis, bahasa Melayu terus berkembang dengan kehadirin mereka. Nyatalah bangsa Melayu itu amat terbuka sikapnya terhadap bahasa. Banyak bahasa Portugis diserap masuk ke dalam bahasa Melayu. Sikap terbuka ini tidaklah menghakis sifat bahasa Melayu tetapi sebaliknya menambahkan lagi khazanah perbendaharaan kata dalam bahasa itu. Kini kita akan melihat pula daftar kata dari bahasa Portugis yang telah diserap masuk ke dalam bahasa Melayu.

B


bangku (banco)

Belanda (holanda)

beranda (veranda)

bendera (bandeira)

biola (viola)

bola (bola)

bilyet (bilhette)

boneka (boneca)

bordil (bordel), tempat pelacuran

botol (botelha)

D

dadu (dado)

dansa (dança)

G

garpu (garfo)

gereja (igreja)

I

Inggris (Ingles)

J

jendela (janela)

K

kaldu (caldo)

kampung (campo)

katun dan kutang (alcotão)

keju (queijo)

kemeja (camisa)

kertas (carta(s) = surat-surat)

kereta (carreteira)



[sunting] L

lentera (lanterna)

M

mandor (mandador)

marakas (maraca) (alat musik perkusi)

meja (mesa)

mentega (manteiga)

meski (mas que)

Minggu (domingo): nama hari, juga dikenal sebagai Ahad

misa (misa) - ibadat Katolik

N

Natal ( Natal)

nina (spt. dalam "nina bobo") (menina): anak perempuan kecil

nona (dona)

nyonya (donha)

P

palsu (falso)

paderi (padre): pendeta

peluru (pelouro, boleiro)

peniti (alfinete)

Perancis (francesa)

pesiar (passear)

pesta (festa)

pigura (figura)

pita (fita)

R

renda (renda)

roda (roda)

ronda (ronda)

S

Sabtu (sábado), nama hari

sabun (sabão)

saku (saco)

sekolah (escola)

sepatu (sapato)

serdadu (soldado)

sinyo (senhor)

sisa (sisa): Bahasa Portugis lama dari residue

T

tanjidor (tangedor)

teledor

tenda (tenda)

tempo (tempo)

terigu (trigo)

tinta (tinta):



Baca selengkapnya......

Rabu, September 02, 2009

Keterbukaan Bahasa Melayu

Sejak zaman berzaman bahasa Melayu telah menyerap masuk pelbagai bahasa asing ke dalam sistem bahasanya. Oleh sebab, sifatnya yang terbuka itu maka mudah bagi pelbagai bangsa dan etnik menerima bahasa Melayu. Hal ini menyebabkan bahasa Melayu menjadi lingua-franca di kawasan nusantara ini. Berikut merupakan senarai kata bahasa Sanskrit yang terdapat dalam bahasa Melayu:
.


A
adi - adicita - adikara - adipati - adiraja - aditya - agama - aji - aksara - aksi - alpa - aneka - angka - angkara - angkasa - angsa - angsoka - aniaya - antara - anugerah - arca - ardi - arya - asa - asmara - asta - astana - atma - atmaja
B
bagi - bahagia - bahasa - bahaya - bahna - bahtera - bahu - baiduri - baja - bakti - bala - banaspati - bangsa - bangsawan - bangsi - bareksa - basmi - batara - batari - bausastra - baya - bayangkara - bayu - bea - beda - bedama - begawan - bejana - bencana - benda - bendahara - berhala - berhana - berita - biara - biarawan - biaya - bicara - bidadari - biji - biksu - biksuni - binasa - birahi - bisa - brahma - brahmana - brahmani - brahmi - brata - buana - budaya - Buddha - budi - bujangga - bukti - bulu roma - bumantara - bumi - bumiputera - bupala - bupati - busana - buta - butala - butayadnya
C
cahaya - cakrabuana - cakra - cakrawala - candala - candi - candra - candramawa - candrasa - candrasengkala - cara - caraka - catur - cedera - cela - cempaka - cendala - cendana - cendekia - cendekiawan - cendera - cendrawasih - cengkerama - cerita - cerna - cinta - cintamani - cipta - cita - citra - cuci - cuka - cula - curiga
D
dadih - dahaga - daksina - dana - dasa - dasawarsa - delima - denda - dendam - derita - desa - Dewa - dewadaru - dewangga - dewasa - dewata - dewayadnya - dewi - dharma, darma, derma - dirgantara - dosa - duli - dupa - duta - dwi
E
eka
G
gada - gaharu - gajah - gala - galuh - ganda - gandarwa - gandewa - gandi - Gangga - gapura - garba - garuda - gatra - gaya - gembala - genta - gergaji- gergasi - gerhana - giri - gita - goni - graha - grahita - griya - gua - gula - gulana - gulma - guna - gunawan - gurindam - guru
H
harsa - harta - hasta - hatta - hima - Himalaya - hina
I
idam - indera - indriya - intisari - irama - istana - istimewa - isteri
J
jagat - jagatraya - jala - jambu - jana - jentera - jasa - jaya - jebad - jeladri - jelma - jiwa - juita - juta
K
kabupaten - kakawin - kala - kalpataru - kama - kamajaya - kanji - kapas - kapur - karena - karma - karna - karunia - karya - kata - kawi - kecapi - keling - keluarga - kemala - kendala - kendi - kenya - kepala - keranda - kerja - kesatria - kesturi - kesumba - ketika - khayal - kirana - kokila - kota - koti - krama - kresnapaksa - krida - ksatria - kuasa - kulasentana - kulawangsa - kunarpa - kunci - kunta - kusa - kusta - kusuma
L
laba - lagu - laksa - laksana - lengkara - lingga - logam - loka - lokakarya - lokananta - lokapala - lintas
M
madia - madu - madukara - madya - maha - maharaja - mahardika - mahkota - makara - mala - malapetaka - manah - mandala - mangsa - mangsi - manik - manikam - mantra - mantri - manusayadnya - manusia - mara - berbahaya - marga - margasatwa - masa - materai - matra - maya - mayapada - mega - melati - menteri - mercapada - merdeka - merdu - merica - merpati - mesra - mesti - mestika - mina - mintuna - mitra - moksa - muka - mula - mustika - mutiara
N
nada - naga - nama - nara - narapati - narapidana - nata - nawa - negara - negeri - neraca - neraka - netra - nila - nirmala - nirwana - niscaya - niskala - nista
O
Ojah

P
pada - padma - padmi - pahala - paksa - paksi - paksina - pala - panca - pancaka - Pancasila - Pancatantra - pandai - pandita - panitia - papa - para - parameswara - parameswari - parisada - parwa - pasca - pataka - patera - patih - pawaka - pawana - payudara - pedanda - pedati - pekerti - pendapa - pendeta - penjara - perada - perbawa - percaya - perdana - peribahasa - peristiwa - perkara - permaisuri - permata - persada - pertama - pertiwi - perwara - petaka - pidana - pitayadnya - prabu - prahara - prakarsa - prakarya - prakata - prameswari - pramugara - pramugari - pramuria - pramuwisata - pranala - pranata - prasangka - prasarana - prasasti - prasetya - prawacana - pria - pribumi - puasa - puja - pujangga - puji - punggawa - pura - purbakala - puri - purnama - purwa - pusaka - puspa - puspadanta - puspita - pustaka - putera - puteri

R
raga - rahasia - raja - rajaberana - rajah - rajalela - rajawali - raksa - raksasa - raksasi - ramai - rasa - rasa - rasi - rata - ratna - reca - rela - remaja - rencana - renjana - resi - restu - rona - rupa - rupiah

S
sabda - sad - sadaya - sahaya - saka - sakala - saksi - sakti - sama - samapta - samudra - sandi - sandiwara - sanggama - sanggamara - sangka - sangka - sangkala - sangsi - Sansekerta - santi - santika - sapta - saptadarma - saptamarga - sarana - sari - sari - saripati - sarira - sarjana - sasakala - sasian - sastera - satria - satru - satwa - satyalancana - satyawacana - saudara - sayembara - seba - sedia - sediakala - sedianya - segala - segara - sejahtera - selesema - selira - seloka - semadi - semboyan - sementara - sempurna - semua - senantiasa - senapati - sendawa - sendi - sengketa - sengsara - senjata - sentosa - serati - seraya - serba - seribumi - serigala - sesira - setanggi - seteru - setia - siksa - sila - singa - singgasana - sisa - siswa - sorga - sri - sridanta - srikaya - stupa - su - suami - suara - suasana - suci - sudah - sudamala - sudara - sudi - sudra - suka - sukarela - suklapaksa - sukma - sula - sunyata - sunyi - suralaya - surya - suryakanta - susila - sutra - sutradara - swa - swakarsa - swakarya - swapraja - swasembada - swasta - swatantra

T
tabil - tala - tala - tani - tantra - taru - taruna - tata - tata acara - tata surya - tatabahasa - tatabusana - tatacara - tataguna - tatakrama - tatalaksana - tatanama - tatanegara - tega - teja - telaga - tembaga - tentara - tepaslira - terka - tetapi - tirta - tri - trimatra - trimurti - trisna - trisula - triwikrama - tuna - tunagrahita

U
udara - umpama - unta - upacara - upaduta - upah - upama - upaya - upeti - urna - usaha - usia - utama - utara


V
vihara

W
wacana - wahana - waisak - waisya - walimana - waluh - wan - wana - wanara - wangsa - wanita - waranggana - warga - warna - warsa - warta - warta berita - wartawan - waruna - waspada - wati - weda - wedana - werda - wesak - wibawa - wibawa - wicara - widara - widya - widyakarya - widyawisata - wihara - wijaya - wiku - wimana - windu - wira - wiracarita - wirama - wiraswasta - wirawan - wisata - wisatawan - wisaya - wisma - wisuda - wiwaha - wiyaga - wiyatabhakti - wredatama –

Y
yantra - yayasan - yoga - yogi - yoni - yogya - yojana - yuda

Ternyata banyak bahasa Sanskrit yang telah terserap ke dalam bahasa Melayu, sama ada kita mengetahuinya atau pun tidak terpulang kepada kita sebagai pengguna bahasa. Pada lain terbitan saya akan senaraikan pula bahasa Portugis yang telah terserap ke dalam bahasa Melayu. Wassalam.

Baca selengkapnya......

Isnin, Ogos 31, 2009

Merdeka! Merdeka! Merdeka!


Ungkapan penuh keramat ini bukan sekadar laungan. Merdeka membawa pengertian yang amat besar kepada setiap warga Malaysia jika kita benar-benar memahami erti kemerdekaan. Bebas dan lepas daripada cengkaman penjajahan satu hal yang penting, namun kini yang lebih penting ialah memastikan kita benar-benar merdeka. Apalah ertinya merdeka jika perkara yang diperjuangkan oleh generasi terdahulu masih lagi terjajah. Dalam soal ini bahasa Melayu dan agama Islam masih tidak mendapat tempat yang sewajarnya.

Bahasa Melayu masih lagi tidak diyakini dapat menyampaikan ilmu pengetahuan terutama dalam ilmu sains dan teknologi. Yang tidak yakin kepada bahasa Melayu bukanlah orang asing tetapi orang Melayu sendiri. Jelaslah bahawa, pemikiran segelintir daripada kita masih lagi terbelenggu dengan penjajahan dengan melihat hanya bahasa Inggeris sahaja yang boleh mengungkap ilmu sains san teknologi moden.

Agama Islam masih lagi tidak mendapat tempat yang sewajarnya. Agama ini tidak dilihat sebagai ad-din tetapi hanya ritual agama semata-mata. Sebagai satu contoh, agama Islam sebagai agama rasmi hanyalah sekadar sisipan doa pada permulaan acara rasmi kerajaan, tidak lebih dari itu. Sedang masih banyak acara yang tidak mengambarkan Islam sebagai agama rasmi Persekutuan. Walhal, Islam bukan sekadar ritual agama tetapi merupakan cara hidup meliputi ekonomi, politik, sosial, perundangan dan sebagainya. Cuba fikirkan berapa peratuskah tuntutan agama ini dipenuhi dalam kehidupan kita ini?


Sesungguhnya, perjalanan mengisi kemerdekaan itu lebih payah dan sukar daripada mencapainya. Memang benarlah ungkapan tersebut. Jadi marilah kita insafi bahawa kemerdekaan itu masih perlu diperjuangkan. Jika dahulu perjuangannya adalah untuk memerdekakan nusa, tetapi kini perjuangannya adalah untuk mengisi erti kemerdekaan itu dalam erti kata yang sebenarnya. Merdeka! Merdeka! Merdeka! Wassalam.


Baca selengkapnya......

Sabtu, Ogos 22, 2009

Ramadhan Al Mubarak

Sempena kedatangan bulan Ramadhan ini saya ingin mengucapkan selamat menjalani ibadah puasa kepada seluruh umat Islam. Semoga puasa dan amal ibadah kita pada bulan yang diberkati ini diterima oleh Allah s.w.t. Saya amat tertarik dengan saranan ustaz Suhaimi Lana pada sesi kuliah subuh beliau tadi, bahawa kita perlu membuat satu "senarai semak muhasabah diri" yang menyenaraikan semua tuntutan wajib dan sunat sepanjang hari dan ditandakan jika berjaya dilaksanakan. Praktisnya, jika kita mempunyai senarai semak tersebut, maka kita boleh membuat satu perubahan terhadap cara kita beribadah. Malahan, senarai semak tersebut akan menjadikan amal ibadah kita lebih terurus dan terorganisasi. Cukup baik jika dapat kita amalkan. Wassalam.

Baca selengkapnya......

Ahad, Ogos 16, 2009

Bahasa Melayu, Bahasa Penyatuan

Sejak sebelum merdeka, Malaysia merupakan sebuah negara yang mempunyai kepelbagaian kaum lantaran dasar penjajah British mengambil buruh dari China dan India. Sejak itu, para penduduk Tanah Melayu telah terbahagi kepada tiga kaum yakni kaum Melayu, Cina, dan India. Malahan sebenarnya kaum Melayu itu sendiri terdiri daripada pelbagai pecahan etnik seperti Jawa, Banjar, Mendeling, Acheh, Bugis, dan sebagainya. Kepelbagaian kaum dan etnik ini bertambah rencam apabila Malaysia ditubuhkan dengan memasukkan Sabah dan Sarawak sebagai satu entiti dalam Persekutuan Malaysia. Di Sabah sahaja penduduknya terdiri daripada sekurang-kurangnya 30 kumpulan etnik dengan menggunakan lebih daripada 50 bahasa dan tidak kurang daripada 90 dialek. Keadaan ini menggambarkan betapa Malaysia memerlukan satu bahasa penyatuan yang dapat menjalinkan ikatan antara kaum ini.
Sememangnya sejak sebelum merdeka lagi kita dapati para pembina negara ini telah melihat bahawa bahasa penyatuan yang paling ideal ialah bahasa Melayu. Hal ini kerana bahasa Melayu merupakan satu bahasa yang amat sederhana dan amat mudah dipelajari. Malahan, bahasa ini juga telah menjadi lingua franca di nusantara ini, meskipun di nusantara ini sahaja terdapat ratusan bahasa lain yang dituturkan. Oleh yang demikian, adalah tepat untuk kita sama-sama memperkukuh penggunaan bahasa Melayu dalam kalangan rakyat demi memperkasa perpaduan di negara ini. Wassalam.

Baca selengkapnya......

Perjuanganku

Memartabat Agama Islam dan Bahasa Melayu sehingga diletakkan di tempat yang selayaknya.

Dimanakah Anda?

Tetamu